Cherreads

Chapter 3 - Bab 3: Awal dari semua

"Creckk..."

Bunyi kayu berderak terdengar saat sebuah kotak jatuh ke tanah.

"Duh! Jatuh nih kotaknya. Aku kira ringan, ternyata berat banget!" keluh Lixs sambil mengusap tangannya. "Kak, bisa bantu angkat ini?"

"Bentar, Lixs. Aku harus angkat kotak buah ini dulu," jawab Claude.

"Oke, aku tunggu," sorak Lixs.

Sembari menunggu, pikirannya melayang, mencoba mencari tahu alasan tempat ini begitu kumuh dan jarang dihuni.

"Apakah ini semua ulah diktator? Ketamakan mereka menghancurkan desa ini, sama seperti desa kelahiranku dulu..." pikirnya. "Besok aku harus mencari tahu lebih dalam. Tapi sekarang, aku harus menyelesaikan pekerjaanku dulu."

"Yang tadi udah selesai, Kak?" tanya Lixs.

"Udah, santai aja," jawab Claude sambil mengangkat kotak berat tadi.

Penasaran, Lixs pun bertanya, "Isinya apa sih, Kak? Aku tadi masukin buah-buahan, tapi nggak ada yang seberat ini."

Claude menghela napas sejenak sebelum menjawab, "Ini bukan sekadar barang biasa. Ini alat-alat khusus untuk Rebel—pemberontakan melawan diktator yang telah menghancurkan desa ini. Semua ini sudah dirancang oleh pemimpin Rebel."

Ya bahkan kepala negara saja tidak peduli terhadap rakyatnya, dia sibuk dengan mendiang keluarga dan kekuasaannya saja.

Mata Lixs melebar. "Kak... jangan-jangan Kakak anggota Rebel?"

"Dulu iya," jawab Claude pelan. "Tapi aku sudah jarang terlibat. Sampai akhirnya kudengar ada kejadian fatal yang membuatku memutuskan kembali."

Lixs semakin penasaran. "Kejadian fatal? Apa itu, Kak?"

"Nanti aku ceritakan. Sekarang, bantu angkat kotak ini dulu."

"Oke, Kak."

Lixs pun mengangkat kotak itu bersama Claude. Setelah selesai, ia kembali mendesak, "Jadi, apa kejadian fatal itu, Kak?"

Claude menatapnya serius. "Pengiriman ini bukan untuk pedagang biasa, tapi untuk perbekalan. Salah satu kelompok yang menghancurkan desamu sepuluh tahun lalu kembali berulah. Mereka haus kekuasaan dan terus menindas orang-orang lemah, seperti di desa ini."

"Untuk melawan mereka, kami mendirikan kelompok bernama Fukkatsu. Bahkan kusir kuda tadi adalah anggota kami. Dia dikenal sebagai Zonss."

Seseorang tertawa di belakang mereka. "Yo, anak muda! Aku Simazaki Zasuka, tapi semua orang di sini memanggilku Zonss. Salam kenal!"

"Oh, hehe... Salam kenal. Aku Lixs Lysanders, panggil aja Lixs."

Zonss melirik Claude. "Eh, Claude, bocah ini lu ajak, atau dia ngikut sendiri?"

Claude terkekeh. "Dia cuma bantu kirim barang. Baru sekarang dia tahu isinya buat Rebel."

Zonss tertawa keras. "Wahahaha! Kirain dia mau gabung!"

Lixs menggeleng. "Aku pulang dulu, Kak. Kotaknya udah beres semua."

"Kamu yakin pulang sendirian? Hati-hati di jalan, ya."

"Iyaaa!" sahut Lixs sambil melambai.

Sekarang, fokusnya adalah mencari tahu penyebab kehancuran desa ini. Setelah berjalan beberapa menit, ia melihat seorang pria dan langsung menghampirinya.

"Permisi, Tuan. Anda tahu apa yang terjadi dengan desa ini?"

Pria itu menatapnya heran. "Siapa kamu? Bukan orang sini, ya?"

"Bukan, Paman..."

Pria itu tertawa terbahak-bahak. "Wahaha! Sudah berapa kali aku dipanggil begitu, padahal umurku baru 19 tahun!"

Lixs terkejut. "Hah?! Serius? Tapi wajahmu... kelihatan tua banget."

"Aku sering mendengar itu. Setidaknya sudah 20 kali sejak aku mulai mencari tahu penyebab kehancuran desa ini," kata pria itu.

Lixs semakin tertarik. "Kamu juga mencari tahu? Wah, kebetulan! Ngomong-ngomong, aku Lixs. Kamu?"

"Kaiden T'horne. Salam kenal."

"Kaiden, kita cari tahu penyebab kehancuran desa ini bareng, yuk!"

"Boleh. Tapi kita harus ke tempat teman-temanku dulu."

"Oke, ayo sebelum kita kesore an !"

Mereka berjalan hingga tiba di sebuah tempat di mana beberapa orang berkumpul.

"Oi, Kaiden! Lama banget!" teriak seseorang.

Kaiden tertawa kecil. "Maaf, tadi ketemu bocah ini di jalan."

Lixs tersenyum. "Halo, aku Lixs Lysanders. Panggil aja Lixs."

"Sopan banget! Aku Kiana."

"Gue Masaki. Semoga kita bisa akrab, ya!"

"Aku Lena," ucap seorang gadis dengan nada lesu.

Lixs menelan ludah. Kayaknya dia nggak suka aku di sini...

Kaiden menunjuk seseorang. "Dan ini kapten kami, Ryuuzaki."

"Berhenti panggil aku kapten!" seru Ryuuzaki. "Lena lebih cocok jadi kapten!"

"Wah, dia marah," ujar Kaiden dan yang lain sambil cekikikan.

Ryuuzaki menatap Lixs. "Jadi, mau gabung sama kami buat cari penyebab desa ini hancur?"

Lixs berpikir sejenak. "Hmm... boleh juga. Desa ini mirip dengan desaku dulu..."

Mata Ryuuzaki menyipit. "Desa Ao'?"

Lixs terkejut. "Kamu tahu?!"

Ryuuzaki mengangguk. "Aku juga berasal dari desa Ao'... Aku kaget saat tahu tempat itu hancur."

"Jadi kalian semua tahu penyebab desa ini hancur?" tanya Lixs.

"Iya. Mereka mengincar sesuatu yang sangat berharga bagi kami," jawab Lena serius.

Lixs menelan ludah. Apakah ini ada hubungannya dengan yang Kak Claude bilang?

"Benda apa itu?" tanyanya.

Lena menatapnya tajam. "Sebaiknya kita hentikan pembicaraan ini... Sepertinya kita sedang diikuti."

"APA?!" Kaiden langsung siaga. "Semua bersiap! Jangan sampai tertangkap!"

Mereka pun bersiap menghadapi bahaya yang mengintai di kegelapan.

More Chapters